Minggu, 08 Mei 2011

JAWABAN PERTANYAAN MAHASISWA


Kuliah oleh Bapak Marsisgit
Filsafat Pendidikan Matematika

1.   Apakah filsafat mempelajari dirinya sendiri?
Jawab:
Dalam filsafat, terdapat 3 kategori penting yaitu ontology, epistemology, dan aksiologi. Ontology berarti segala hal yang berhubungan dengan hakikat dan atau makna dari sesuatu. Epistemologi berarti segala hal yang berhubungan dengan cara, metode, serta pendekatan yang digunakan untuk mengkaji obyek filsafat. Sedangkan aksiologi adalah berupa nilai-nilai etik, estetika dan spiritual.
           Filsafat memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas, maka karena itulah filsafat memperkaya ilmunya sendiri dan menterjemahkan ilmu-ilmu yang ada didalamnya. Hal ini dapat digambarkan dalam tabel berikut ini.

Ontologi
Epistemologi
Aksiologi
Ontologi
1
2
3
Epistemologi
4
5
6
Aksiologi
7
8
9

Keterangan:
1.   Ontologi  Ontologi : Hakekat dari hakekat. Yaitu menerjemahkan hakekat dari             
                                     hakekatnya segala sesuatu. Hal ini hanya dapat
                                     diketahui oleh Tuhan YME.
2.   Ontologi  Epistemologi : Hakekat dari cara. Yaitu menerjemahkan hakekat
                                             dari pendekatan yang dilakukan untuk mengkaji
                                             suatu obyek filsafat.
Contohnya adalah ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk dari kesempurnaan peribadatan ataupun simbol tertentu dalam falsafah kehidupannya, seperti ritual dalam pernikahan, wayangan, labuhan, dan lain-lain.
3. Ontologi  Aksiologi : Hakekat suatu nilai.
4. Epistemologi Ontologi : Pendekatan untuk memahami hakekat.
Contohnya adalah berbicara untuk menjelaskan sesuatu secara filsafati. Menjelaskan sesuatu dalam filsafat adalah mencari hakekatnya, sehingga disebut-sebut jika tidak mampu bicara hakekat maka bukan berfilsafat.
5. Epistemologi  Epistemologi: Mengkaji cara yang ditempuh untuk melakukan
                                                      suatu pendekatan terhadap obyek filsafat.
6. Epistemologi Aksiologi: Cara yang dilakukan untuk mengkaji suatu nilai-nilai
                                               dalam filsafat, yaitu etik, estetika, dan spiritual.
7.  Aksiologi  Ontologi: Nilai suatu hakekat.
8. Aksiologi  Epistemologi: Yaitu nilai-nilai dari pendekatan atau cara yang
                                               dilakukan untuk mengaji sesuatu dalam filsafat.
9. Aksiologi  Aksiologi: Yaitu nilai dari nilai yang terkandung dalam suatu obyek.
Dari ke Sembilan proses mempelajari filsafat, dapat dilihat bahwa luas sekali jangkauan filsafat dalam kehidupan. Bahkan filsafat memperkaya dan mempelajari dirinya sendiri.
2.   Bagaimana cara memberitahu agar teman sendiri mau beribadah sholat?
Jawab:
Dalam filsafat, terdapat tingkatan kebutuhan manusia yaitu dimulai dari material, formal, normative, dan spiritual. Seseorang yang belum mau untuk beribadah sesuai agama yang dianutnya bisa saja disebut telah melakukan kesalahan. Dari sisi yang lain, orang tersebut mungkin belum bisa memenuhi kebutuhan tertingginya yaitu kebutuhan spiritual yang berkaitan dengan penyembahan terhadap Tuhan dan kepatuhan terhadap agama yang dianutnya. Dalam kasus ini, orang tersebut dalam keadaan menganut agama Islam sehingga ia diwajibkan untuk melakukan sholat 5 waktu sebagai bentuk kepatuhannya terhadap Tuhan. Jika orang tersebut sulit untuk disuruh sholat, mungkin dapat ditempuh cara lain, yaitu dengan cara mengajak dan membimbing untuk sholat dengan baik dan benar. Membimbing dan mengajarkan sesuatu akan lebih bermanfaat jika disbanding dengan hanya sekedar memberitahu.
Bagaimana agar hati mampu mengendalikan pikiran? Jawabannya adalah dengan cara mencari guru spiritual yang dapat membimbing dengan baik dan benar. Guru spiritual tersebut harus memiliki ilmu keagamaan yang lebih tinggi agar mampu memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan, seperti dalam tata cara peribadatan. Esensi dari beribadat tidak lain adalah tata cara ritual keagamaan yang benar, cara penyembaha, doa, serta sikap dan waktu yang terbaik. Maka karena itulah seseorang wajib memperbaiki diri dalam tata cara beribadah.

3.   Filsafat adalah bahasa, lalu seberapa krusial peran filsafat dalam bahasa?
Jawab:
Hal yang paling krusial adalah jika seorang penguasa menggunakan filsafat untuk mempengaruhi orang. Filsafat dapat mengubah pandangan hidup dan jalan pikiran seseorang, sehingga dikhawatirkan dapat merusak kebebasan pandangan hidup seseorang dalam kehidupannya. Hal ini tidak jauh dari pembentukan karakter seseorang oleh orang lain yang memiliki karakter yang lebih kuat. Penguasa yang memiliki karakter kuat akan berbahaya jika menularkan pemikiran salahnya terhadap orang lain. Hal ini harus dihindari, yaitu dengan cara memperkuat karakter diri dengan kepribadian yang baik dan mengembagkan kualitas filsafati dalam jalur yang benar.

4.   Bagaimana cara memahami karakter siswa?
Jawab:
Cara memahami karakter siswa adalah dengan cara berkomunikasi secara baik dan melakukan pendekatan. Komunikasi tersebut dapat dilakukan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, yaitu dengan media elektronik ataupun lisan. Dengan berkomunikasi dan dekat dengan siswa, maka diharapkan dapat mengetahui jalan pikiran siswa sehingga mengerti kebutuhan siswa dalam pemilihan metode pembejalaran ataupun cara evaluasi yang baik. Jika seorang guru mengerti karakter siswanya dan mengunakan metode yang tepat, maka diharapkan akan tercapai tujuan-tujuan pembelajaran dengan baik.

5.   Fenomena dalang cilik, cocokkah ditonton oleh orang dewasa?
Jawab:
Pertunjukkan wayang sebagai pagelaran yang memuat unsur budaya, agama, dan moral (aksiologi) merupakan pertunjukkan yang penuh makna bagi orang Jawa. Dalang sebagai konduktor pertunjukkan bertugas menyampaikan isi cerita, alur, serta percakapan antar tokoh-tokoh pewayangan. Sering kali jalan cerita pewayangan tidak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari orang jawa yang dekat dengan upacara adat.
Fenomena adanya dalang cilik baik bagi regenerasi pewayangan masa depan, agar diminati oleh segala golongan usia. Namun, ketika dalang cilik melakonkan wayangnya dalam cerita pernikahan, berkeluarga, memiliki anak, dan bermasyakarat tentu saja masih merupakan mitos semata. Hal ini dikarenakan Si Dalang Cilik baru dapat menghafal saja, dan belum pernah mengalami pengalaman berkeluarga, menikah, dan lain-lain. Inilah yang disebut-sebut masih merupakan setengah dunia saja dalam filsafat. Karena itulah fenomena dalang cilik ini hanya terbatas pada penanaman minat wayang pada anak-anak saja, dan belum dapat dikatakan memiliki nilai-nilai wejangan dari yang dirasa memiliki banyak pengalaman hidup.

6.   Bagaimana cara menghilangkan perasaan panik dan gelisah?
Jawab:
Panik dan gelisah dalam diri manusia ada 2 jenis, yaitu panik hati dan panik pikiran. Cara menghilangkan perasaan panik dan gelisah hati adalah dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Melakukan pendekatan pada Tuhan dapat dilakukan melalui berdoa secara khusyu dan melakukan istighfar secara terus-menerus. Adanya perasaan gelisah dan panik tersebut dikarenakan adanya godaan setan dan menyebabkan goyahnya hati sehingga dapat mengakibatkan goyahnya pikiran pula.
Apabila panik yang terjadi adalah dalam pikiran, maka bukan semata-mata sesuatu yang buruk, tetapi juga bisa merupakan awal dari ilmu. Paniknya pikiran bisa saja disebabkan oleh adanya kecurigaan terhadap sesuatu, dan akan berujung pada mencari jawaban (mencari ilmu). Hal inilah yang kemudian dikatakan sebagai proses belajar seseorang.
7.   Bagaimana hubungan sejarah dan filasafat?
Jawab:
Kajian dalam filsafat adalah segala sesuatu yang sudah berlalu, sekarang, dan yang akan datang. Sedangkan kajian sejarah adalah segala sesuatu yang telah berlalu. Dapat diketahui dari kajian filsafat dan sejarah tersebut bahwa filsafat mempelajari sejarah atau dapat pula dikatakan bahwa sejarah terdapat dalam filsafat. Filsafat adalah penghung antara dimensi ruang dan waktu yang telah berlalu dengan sekarang dan yang akan datang. Filsafat membawa serta kejadian-kejadian serta hakekatnya seperti foto, kamera dan rekaman yang memuat kejadian di masa lalu dan bisa disebut sebagai mesin waktu.

8.   Apa filsafat dari gendhing Jawa?
Jawab:
Gendhing jawa adalah seperangkat alat music khas Jawa yang dapat menimbulkan suara harmonis dan selaras. Harmoni menjadi hal yang sangat menarik dalam gendhing Jawa karena ada 50 macam alat music yang berbeda tetapi dapat menghasilkan suara yang tidak saling menghancurkan. Kolaborasi suara Gendhing Jawa sangat selaras dengan lingkungan dan fenomena yang terjadi di dalamnya. Hubungan antara gong dan kendhang selaras seperti hubungan antara suara angin badai dan hujan. Tidak ada yang ganjil dalam perpaduan suara hujan dan angin seperti halnya dalam perpaduan suara gong dan kendhang. Filsafat dari gendhing Jawa adalah keselarasan dan harmoni.

9.   Bagaimana Syekh Siti Jenar menganggap dirinya Tuhan?
Jawab:
Syekh Siti Jenar adalah suatu ulama Islam pada masa sunan Walisongo masih hidup. Syekh Siti Jenar yang memiliki gelar syekh adalah seseorang yang dianggap memiliki ketaan beribadah yang tinggi serta dituakan dalam golongannya. Tetapi seiring berjalannya waktu dalam masa ia mendalami ilmu agama serta mendekatkan diri kepada Tuhan, ia merasakan suatu tingkatan/ pencapaian yang sangat tinggi dalam doanya.
Pencapaian tersebut ia rasakan sebagai kedekatan terhadap Tuhan sehingga ia merasa telah menyatu kepada Tuhannya. Atas adanya perasaan seperti itulah kemudian ia menyebut-nyebut dirinya sebagai Tuhan. Syekh Siti Jenar menganggap dirinya adalah yang telah meyatu dengan Tuhan sehingga ia patut untuk disebut Tuhan dan disembah seperti Tuhan oleh semua orang.
Kesombongan dalam diri Syekh Siti Jenar itulah yang membuat ia lupa akan kehambaannya terhadap Tuhan. Kesombongan dalam ketaan beribadah dapat menyebabkan seseorang terperosok dalam pemikiran yang salah dan kemudian disebut sebagai orang yang musrik dan perbuatan ini justru sangat dibenci oleh Allah SWT.

10. Bagaimana kriteria orang bijaksana?
Jawab:
Kebijaksanaan yang tertinggi adalah milik Tuhan, sedangkan manusia hanya bisa berusaha untuk dapat menggapai sifat-sifat bijaksana, kecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Tuhan YME. Cara untuk menggapai bijaksana salah satunya adalah dengan berfilsafat kerena filsafat mempelajari hakekat dari segala sesuatu dan dapat menjadikan seseorang bertingkah laku sesuai dengan tempat dan posisinya masing-masing. Jika seseorang telah melakukan sesuatu sesuai rung dan waktunya, maka orang tersebut dapat dikatakan bijaksana.
Dalam kehidupan orang barat, bijaksana adalah milik orang-orang yang berilmu dan mau belajar dengan tekun. Karena itulah orang-orang pandai di Barat sangat dihargai dan bahkan dinobatkan sebagai ilmuan atau ahli tertentu. Sedangkan dalam kehidupan orang Timur, orang yang bijaksana adalah orang yang berilmu, memberikan ilmunya, memiliki karsa serta karsa. Bagi orang Jawa, orang yang bijaksana adalah orang-orang yang mampu memberi, baik memberi ilmu, uang, serta kenyamanan kepada orang lain. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang Indonesia berlomba-lomba mencari jabatan, pangkat, derajat, dan harta sehingga ia dapat memberikan kepada orang lain dan kemudian dapat dianggap sebagai orang yang bijaksana. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa ternyata pencapaian kebijaksanaan dalam kehidupan sering kali berbeda dengan makna kebijaksanaan yang sebenar-benarnya.

11. Bagaimana cara guru memfasilitasi siswa agar jelas dalam menyerap penyampaian materi?
Jawab:
Cara terbaik yang dilakukan guru untuk dapat memfasilitasi siswa dalam menyerap penyampaian materi adalah dengan cara guru membangkitkan kreatifitas siswa agar tidak bosan dalam pembelajaran. Ketika siswa tidak merasa bosan, maka siswa akan memperhatikan penjelasan guru mengenai materi/ bahan ajar sehingga pada akhirny siswa dapat mengerti secra baik tentang materi tersebut. Kreatifitas siswa dalat terbentuk apabila siswa dalam kondisi tidak terbebani dan nyaman dengan kegiatannya, untuk itulah maka guru perlu memberikan kemerdekaan kepada siswa dalam menetukan metode pembelajarannya masing-masing.
Kemerdekaan berpikir dan memahami materi tentu saja haruslah merupakan kemerdekaan yang bertanggung jawab dan terkontrol, karena jika tidak diimbangi dengan rasa tanggung jawab maka akan terbentuk suatu kondisi yang anarkhis dan justru dapat melenceng dari tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Disitulah peran guru sebagai pengarah dan pembimbing siswa dalam belajar.

12. Bagaimana cara berfilsafat dengan baik agar dapat selalu sadar ruang dan waktu?
Jawab:
Cara berfilsafat yang baik agar selalu sadar ruang dan waktu adalah menjauhkan diri dari mitos dan selalu mengguanakan hati sebagai komando pikiran ketika sedang berfilsafat. Manusia sebagai makhluk yang lemah memiliki banyak sekali kekurangan dan ketidakmampuan. Salah satunya adalah kenyataan bahwa kehidupan manusia hanyalah suatu reduksi saja. Manusia dalam hidupnya menghabiskan waktu hidup dan berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lain. Manusia dalam ruang tertentu tidak bisa menempati ruang yang berbeda dalam waktu yang sama. Inilah yang disebut manusia mengabaikan ruang tertentu untuk ruang lain yang lebih bermanfaat.
Dalam kenyataannya manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Pilihan tersebut sering kali menjadi awal ruang dan waktu lain yang akan dijalani seseorang nantinya. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa tidak sepenuhnya mengabaikan ruang dan waktu itu salah, tetapi benar jika ia memilkih ruang dan waktu lain yang lebih bermanfaat untuk dirinya.
13. Antara hati dan pikiran, apakah harus seimbang?
Jawab:
Antara hati dan pikiran haruslah seimbang agar terjadi keselarasan dalam hidup. Masalah biasanya terjadi ketika hati dan pikiran tidak dapat mencapai keseimbangan tersebut. Agar terjadi keseimbangan, maka hati perlu memperkuat dirinya agar mampu mengendalikan pikiran. Pikiran juga memberikan sumbangan ilmu agar mampu membawa hati pada nilai-nilai yang benar pula.
Dalam filsafat, segala hal memiliki dimensinya masing-masing termasuk hati dan pikiran. Jika hati memiliki perspektif Tuhan, maka pikiran memiliki perspektif ilmu. Ilmu dan keyakinan tersebut harus dikondisikan dalam keadaaan yang selaras dan seimbang agar tidak terjadi pertentangan dalam diri seseorang dan pada akhirnya akan mengakibatkan ia sakit (dalam filsafat perlu di beri penjelasan).

Kamis, 21 April 2011

FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


FILSAFAT MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
Sumber: Kuliah oleh Bapak Marsigit
Munculnya matematika pertama kali adalah berawal dari pemikiran bangsa Babilonia Kuno (Peradaban Mesir) terhadap fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena tersebut menjadi awal munculnya berbagai permasalahan matematika yang menuntut untuk dicari penyelesaiannya. Pada peradaban yang lebih muda yaitu peradaban Yunani, manusia mulai memikirkan kenyataan bahwa matematia adalah suatu ilmu yang diperoleh dari hasil abstraksi dan idealisasi sehingga munsul berbagai rumus-rumus matematika yang juga tersaji dalam bukti-bukti matematika.
Uraian tentang permulaan matematika dan pengembangannya masih termasuk dalam ruang pikiran dan jangkauan manusia. Di sisi lain, di alam transenden terdapat noumena sebagai sesuatu diluar fenomena sebagai sesuatu yang sangat jauh dari jangkauan pikiran manusia. Di alam transenden tersebut, manusia orang memperoleh analisis bahwa ternyata segala sesuatu adalah tetap dan berubah. Permenides adalah tokoh yang menyatakan bahwa dunia itu tetap, sedangkan Heraclitos menyatakan yang berkebalikan. Termasuk matematika juga dapat dipandang sebagai ilmu yang tetap dan sekaligus ilmu yang berubah terikat ruang dan waktu.
Dalam kaitannya memperoleh hakekat tentang matematika, muncul berbagai pertanyaan mengenai system, struktur, bangunan serta pondamen matematika. Matematika sebagai ilmu yang lahir dari pemikiran manusia adalah sangat tergantung dari pondamen pikir seseorang. Seseorang yang memulai segala sesuatu dengan mempercayai adanya awal, maka ia disebut kaum foundamentalist, sedangkan orang yang hanya menggunakan dasar intuisi sebagai awal aktifitas pikirnya disebut sebagai kaum intuisionist.
Seiring berjalannya waktu, manusia semakin ingin mengerti tentang matematika dan hakikatnya. Mereka melakukan pemikiran yang lebih lanjut mengenai sifat matematika, apakah tunggal, atau plural, relatif ataukah absolut. Pemikiran yang lebih lanjut tersebut berarti berpikir dengan cara ekstensif (luas seluas-luasnya) dan intensif (dalam sedalam-dalamnya). Dengan adanya pemikiran yang intensif dan ekstensif tersebut, muncul ilmu filsafat matematika sebagai ilmu yang berisi tentang penjelasan segala sesuatu dalam matematika. Terdapat 3 hal penting yang ada dalam filsafat yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Matematika murni sebagai ilmu yang berasal dari transendental pikiran dan terbebas dari ruang dan waktu menjadikannya berbeda dengan matematika sekolah yang bersifat sosio-konstruktivis yang memiliki pondamen fenomena dalam pendidikan matematika. Pure Mathematics menurut Hilbert bersifat formal dan aksiomatis. Hukum yang ada dalam pure mathematics konsisten, absolute, tunggal, identitas, Rigor (apodiktif), serta koheren (kebenaran berdasar pada logika pikir). Sedangkan The Nature of Scool Mathematics adalah matematika yang bersifat terikat ruang dan waktu sehingga menjadikannya bersifat  relatif, plural, kontradiktif, serta korespondensi (kebenaran berdasar dari pengalaman nyata).
Matematika sekolah yang berperan penting dalam pendidikan di tingkat SD, SMP ataupun SMA sangat beragam dan kaya akan variasi kebenaran menurut ruang dan waktu. Digambarkan pada matematika muni bahwa 2+3=5, tetapi dalam kenyataannya 2 buku+ 3 pensil tidak bisa lantas dijumlahkan sehingga menghasilkan sesuatu yang bernilai 5. Hal ini sebagai contoh bahwa konteks pembicaraan serta penalaran adalah hal yang sangat penting dalam matematika sekolah.
Dalam masa sekarang, matematika sekolah dianggap sebagai subkelas dari matematika murni. Padahal matematika murni dan matematika sekolah adalah 2 hal yang berbeda dan memiliki ranah tersendiri. Matematika murni lebih mengarah pada pengembangan ilmu murni matematika serta keterampilan pembuktian matematis, sedangkan matematika sekolah adalah bagaimana cara berkehidupan dengan matematika. Walaupun matematika murni dan matematika sekolah berbeda, tetapi pada dasarnya mereka masih tetap menggunakan ilmu dasar matematika dalam pengembangannya masing-masing. Maka tidaklah mengherankan apabila matematika sekolah di Indonesia saat ini adalah belajar bermatematika murni, kemudian di transformasi ke dalam matematika sekolah.
Fenomena kesenjangan antara matematika murni dan pendidikan matematika dapat dilihat dari kenyataan bahwa terdapat perbedaan antara berbagai universitas besar di Indonesia yaitu seperti UGM, IPB, ITB, dan UI dengan universitas pendidikan seperti UNY, IKIP, UAD dan lain-lain. Selain itu, banyak terjadi ketimpangan dalam matematika di sekolah SD, SMP dan SMA karena pejabat-pejabat yang memegang peranan penting di direktorat pendidikan matematika nasional adalah orang-orang dari matematika murni. Mereka berusaha membuat program untuk matematika sekolah dengan meraba-raba permasalahan yang ada. Hal ini akan menjadi sangat merugikan perkembangan matematika sekolah karena terdapat banyak program yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan matematika.
Fenomena ketimpangan dalam hubungan matematika sekolah dan pendidikan nasional tersebut kemudian menjadikan lahirnya butir-butir revolusi pendidikan matematika yang termuat dalam elegi ‘Surat Terbuka untuk Presiden’. Dalam revolusi tersebut dibahas mengenai permasalahan pendidikan matematika beserta penyelesaian yang sesuai. Hal ini juga dapat dipandang sebagai sebuah ungkapan kecewa atas kenyataan buruknya pendidikan matematika di Indonesia.
Dalam sebuah bahasan dalam pendidikan matematika realistic (Realistic Mathematics Education) terdapat sebuah ilmu mengenai proses belajar matematika. Fenomena gunung es sebagai model proses ini adalah menggambarkan transformasi belajar matematika dari benda konkrit (untuk level SD) menuju skema (level SD dan SMP) menuju model (level SMP dan SMA) kemudian menjadi abstrak atau formal (level SMA dan PT). Dari permodelan gunung es tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata belajar matematika pada awalnya memerlukan pendekatan menggunakan benda-benda konkrit serta contoh nyata. Kelakuan belajar matematika ini sering kali kurang sesuai dengan kurikulum serta kebijakan pemerintah yang ada. Hal inilah yang membuat pendidikan matematika Indonesia kurang berkembang dan maju tak seperti pada negara-negara lain yang memberikan proporsi yang sesuai antara perkembangan dan wewenang matematika murni dan matematika sekolah.
Kesimpulan dari seluruh uraian tersebut adalah dalam perjalanan mengembangkan matematika, kita perlu mengingat ruang dan waktu dalam rasa kesadaran menjalankan segala sesuatu dan bertindak serta memahami hakekat dan proporsi yang sesuai dengan apa yang sedang dihadapi. Pendidikan matematika sebagai matematika yang dekat dengan matematika sekolah dan realistik matematika dapat dikembangkan dengan baik hanya oleh orang-orang yang berkompeten dalam pendidikan matematika, bukan oleh orang-orang yang berkompeten dalam matematika murni. Hal ini karena sifat dasar serta hukum yang dianut dalam matematika murni dan matematika sekolah berbeda.

Demikian uraian mengenai materi kuliah oleh Bapak Marsigit yang disampaikan pada pukul 13.00-14.30 pada tanggal 21 April 2011 di FMIPA UNY.

Rabu, 13 April 2011

MENGGAPAI PEMAHAMAN TERHADAP DUNIA


Kuliah oleh Bapak Marsigit
Seseorang dalam kehidupan di dunia selalu berhubungan dengan berbagai fenomena dan realitas yang ada. Proses seseorang dalam memahami dunia adalah proses abstraksi. Fenomena dan seluruh kejadian di dunia di sintetiskan dalam pikiran manusia melalui proses abstraksi ini. Hasil dari proses abstraksi adalah sebuah terjemahan dari obyek yang dipikirkan. Dalam hal ini dicontohkan jika seseorang ingin memahami dunia dengan cara menganalogikan dunia merupakan satu titik saja, maka akan sangat tidak lengkaplah dunia yang terbentuk nantinya. Dunia dari sebuah titik akan menjadi berkembang jika titik sebagai obyek berpikir itu  juga dikenakan sifat ruang dan waktu. Titik dapat dipandang sebagai sebuah garis lurus jika ditarik terus menerus, titik dapat berupa lingkaran jika di rotasikan dengan besaran dan arah yang sama, begitu juga titik dapat menjadi apa saja. Contohnya adalah bangun-bangun ruang yang ada di dunia.
Manusia untuk menerjemahkan dunia memerlukan suatu metode analogi. Menganalogikan fenomena yang terjadi dengan sesuatu yang lain yang telah lebih dulu dimengerti. Terkadang banyak sekali suatu fenomena yang dianggap ganjil oleh sebagian orang. Hal ini di kerenakan orang-orang tersebut tidak dapat menerima fenomena tersebut sebagai suatu analogi dari fenomena biasa yang lain.
Dalam falsafah kehidupan orang timur, khususnya orang Jawa, di katakana bahwa mereka menganut budaya yang kemudian mudahnya saya sebut ‘keumuman’. Seperti apa budaya tersebut dapat dianalogikan seperti suatu kurva normal dalam statistika. Dalam kurva normal, suatu titik dikatakan memiliki nilai ketepatan dan kebenaran jika titik tersebut ada dibawah kurva normal dan tidak masuk dalam daerah penolakan keputusan, yaitu lebih dari standar deviasi di ujung sisi kanan dan kiri. Seperti dalam kurva normal, kehidupan orang jawa yang dianggap benar dan tepat adalah pada saat ia termasuk dalam keadaan yang sama dengan orang lain pada umumnya. Sedangkan seseorang dikatakan ganjil atau tak benar jika ia menyimpang dari perilaku orang lain secara umum.
Orang-orang yang tergolong bermasalah atau tidak benar secara umum harus diberi perlakuan khusus yaitu diberi ruwatan (istilah Jawa). Ruwatan adalah semacam penjelasan yang dilakukan agar terhindar dari malapetaka atau musibah. Ruwatan dalam waktu yang lalu, dilakukan dengan cara mengadakan pagelaran wayang semalam suntuk ataupun sesaji. Dalam waktu yang sekarang, orang-orang modern memelajari bahwa ternyata ruwatan dapat diganti dengan doa serta ikhtiar serta berbaik sangka dengan apa yang akan terjadi kemudian. Pada saaat inilah ruwatan dengan cara menggelar wayang serta sesaji hanya merupakan budaya serta adat daerah saja.
Filsafat sebagai ilmu yang obyeknya juga merupakan fenomena kehidupan, berperan sebagai bahasa untuk menterjemahkan fenomena tersebut. Filsafat juga merupakan ilmu yang digunakan untuk mengubah mitos menjadi logos. Seperti contohnya mitos harus melakukan ruwatan dengan cara wayangan dan sesaji diganti dengan logos bahwa yang terpenting adalah berikhtiar dan tawakal untuk mencegah malapetaka datang.
Dalam pikiran manusia, terdapat berbagai bagian yang saling berkaitan. Manusia memiliki kategori sebagai alat untuk memilah-milah sesuatu berdasar sifatnya. Kategori dalam pikiran manusia terdiri dari relasi (hubungan), kategori, kuantitatif, serta kualitatif. Manusia menggunakan 2 cara untuk mengabstraksi sesuatu ke dalam pikirannya, yaitu submerge dan superserve. Submerge adalah istilah yang dikenakan pada pengambilan obyek abstraksi dari suatu a priori, analitik, logika dan rasio. Sedangkan superserve dikenakan pada pengambilan obyek asbstraksi dari suatu yang nyata, konkrit, fisik, ataupun sintetik. Kategori dalam pikiran manusia berbeda-beda, hal ini dikarenakan pengalam dan ilmu setiap orang tidak sama. Dengan adanya perbedaan kategori inilah, sering kali timbul permasalahan ketidak cocokan pendapat ataupun sifat. Ketidak cocokan ini juga merupakan suatu fenomena yang terjadi di dunia dan memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Peran filsafat dalam kehidupan manusia sangatlah penting. Filsafat sebagai bahasa penerjemah serta penuntun dati mitos ke logos. Filsafat mengajak orang agar tidak terjerumus pada sesuatu yang bodoh dan tak berguna. Dengan mempeelajari filsafat, diharapkan dapat memahami dunia dan segala isinya dengan lebih baik lagi.